SMAMDA.SCH.ID – Ketua Forum Kampung Bahasa (FKB) Arsyad Naufal Ngadiono mengungkap sejarah Kampung Inggris. Ia menyampaikan Sejarah Kampung Inggris saat menerima lawatan SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo ke Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri, Senin (3/02/2025). Kegiatan ini dalam rangka Outdoor Learning kelas X Smamda Sidoarjo.
Adi, -sapaan akrabnya- menceritakan bahwa di tahun 1976, Muhammad Kalend Osen—akrab disapa Mr. Kalend— mulai berguru kepada K.H. Ahmad Yazid, pendiri Pesantren Darul Falah di Desa Pelem Kecamatan Pare. “K.H. Yazid dikenal dengan kemampuannya menguasai delapan bahasa asing,” ujar Adi.
Tak lama setelahnya, dua mahasiswa IAIN (kini UIN) Sunan Ampel Surabaya datang ke pesantren itu untuk mempersiapkan ujian bahasa Inggris. Saat K.H. Yazid berhalangan, Mr. Kalend yang mengambil alih peran sebagai pengajar.
“Hasilnya, kedua mahasiswa tersebut sukses lulus ujian. Kabar ini menyebar cepat di kalangan mahasiswa, membuat banyak dari mereka berbondong-bondong belajar kepada Mr. Kalend,” tutur Adi.
Melihat antusiasme yang tinggi terhadap pembelajaran Bahasa Inggris, pada 15 Juli 1977, Mr. Kalend mendirikan Basic English Course (BEC) —lembaga kursus bahasa Inggris pertama di Kampung Inggris. BEC tak hanya mengajarkan grammar, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar immersive. Murid wajib berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Metode ini menjadi ciri khas yang diadopsi lembaga-lembaga berikutnya.
Era tahun 2000-an
Kesuksesan BEC menginspirasi banyak pihak mendirikan lembaga serupa. Pada 2000-an, Kampung Inggris sudah memiliki puluhan kursus dengan spesialisasi beragam, mulai dari speaking hingga TOEFL preparation.
“Pada 2007 Penggunaan internet dan sosial media semakin membuat Kampung Inggris dikenal di masyarakat Indonesia,” ucap Adi.
Direktur Mahesa Institute itu menegaskan bahwa kini Kampung Inggris tidak sekadar “kampung”, melainkan ruang akulturasi budaya. Bertemunya masyarakat lintas budaya dan daerah di Kampung Inggris mengokohkan citra baru sebagai Miniature of Indonesia.
Adi menambahkan, sejak tahun 2012, dengan semakin banyaknya Lembaga kursus di Kampung Inggris, dibutuhkan suatu lembaga besar yang bisa menyatukan lembaga-lembaga kursus yang ada. Lalu didirikanlah Forum Kampung Bahasa (FKB).
Berdasarkan penjelasan Adi, FKB merupakan organisasi resmi yang diakui pemerintah daerah yang bertugas melakukan koordinasi, evaluasi dan rekomendasi di Kampung Inggris. Termasuk mengoordinir seluruh lembaga-lembaga kursus yang ada di Kampung Inggris untuk menerima tamu, baik wisatawan maupun dinas dan lembaga lain. “Saat ini ada 173 lembaga yang berdiri di Kampung Inggris,” pungkasnya.