SMAMDA.SCH.ID - Desa wisata Gabugan, Dusun Gabugan, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta memiliki suasana asri dan kental budaya Jawa. Selain menyuguhkan pesona alam yang asri, Gabugan juga menyuguhkan pengalaman edukatif budidaya cabe bagi murid SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (04/02/2025) dan memberikan wawasan mendalam mengenai rantai usaha cabe dari proses pembibitan hingga panen.
Lokasi Dusun Gabugan yang terletak 20 km dari Gunung Merapi memiliki lahan subur yang ideal untuk pertanian cabe. Para murid belajar secara langsung di lokasi, menyaksikan proses tanam dan panen cabe yang dipimpin oleh petani lokal. Salah satu narasumbernya, Kak Dimas Andriyanto. “Yang perlu diperhatikan sebenarnya adalah pemeliharaan dan masa panen. Semua tahap harus dilakukan dengan tepat agar hasil yang diperoleh maksimal,” ujar Kak Dimas.
Pembelajaran dimulai dengan sesi pembibitan. Semua murid menyimak tahapan persiapan benih, persemaian, dan perawatan awal bibit cabe. Zaskia, murid kelas XI-2, menjelaskan bahwa proses pembibitan dimulai dari seleksi biji cabe berkualitas. “Kami belajar memilih buah yang berwarna merah sempurna dan segar, lalu biji tersebut disemai menggunakan media tanam dengan perbandingan pupuk kandang 1:1 untuk setiap benih di pot plastik kecil,” terang Zaskia.
Setelah melalui tahapan pembibitan yang berlangsung antara 10 sampai 14 hari, tanaman dipindahkan ke lahan dengan usia 30 hingga 40 hari. Kegiatan lapangan pun dilanjutkan dengan melihat langsung proses pembesaran tanaman di ladang cabe yang tidak jauh dari rumah Kak Dimas. “Cabe yang dipanen sebenarnya masih berwarna hijau, bukan merah. Hal ini dikarenakan proses pematangan akan terjadi saat buah sudah diperdagangkan,” jelas Kak Dimas.
Para murid juga mendapatkan pembekalan mengenai teknik pemupukan. Penggunaan pupuk kandang hasil fermentasi sangat penting untuk menjaga kesehatan akar dan mencegah kebusukan. Selain itu, materi penanganan penyakit pada tanaman cabe juga disampaikan untuk menambah wawasan teknis. “Pembelajaran di lapangan ini memberikan inspirasi bagi saya dan teman-teman untuk mencoba bisnis budidaya cabe, dari hal kecil hingga skala yang lebih besar,” pungkas Zaskia.
Kegiatan ini diharapkan dapat membuka mata generasi muda tentang peluang usaha pertanian yang menjanjikan dan meningkatkan pengetahuan praktis dalam dunia agribisnis.