SMAMDA.SCH.ID – Desa wisata Gabugan, Dusun Gabugan, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, menjadi lokasi inovasi pertanian yang menarik perhatian murid SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo. Pada Senin (03/02/2025), Suratinah, pegiat Kelompok Wanita Tani (KWT) di desa tersebut, menyampaikan teknik pengolahan tanaman sayuran dan toga kepada murid-murid Smamda Sidoarjo. Mereka sedang mengikuti kegiatan pembelajaran di luar (outing class) selama dua hari, Senin-Selasa (03-04/02/2024)..
Di halaman rumah Suratinah yang asri dan subur, kegiatan edukatif ini membuka wawasan baru tentang manfaat tanaman tradisional. Kerjasama antara KWT dan pemerintah setempat telah memungkinkan para petani untuk menyebarkan pengetahuan praktis mengenai budidaya dan pengolahan tanaman, salah satunya adalah kenikir. Meskipun kenikir selama ini dikenal sebagai lalapan dan bahan sayur kukusan, Suratinah mengungkapkan bahwa daun kenikir juga dapat diolah menjadi teh.
Menurut penjelasan beliau, proses pembuatan teh kenikir memiliki langkah yang berbeda dari teh pada umumnya. "Daun kenikir yang sudah dipetik kemudian dikeringkan dengan cara dibalut kain hitam. Proses pengeringan ini memungkinkan daun kering secara alami tanpa terkena sinar mata langsung," ungkap Suratinah.
Proses tersebut menghasilkan daun kering yang berkualitas, yang kemudian diseduh dengan perbandingan tepat, yaitu satu sendok teh daun kering per 100 ml air, untuk menghasilkan seduhan teh yang nikmat dan menyehatkan.
Manfaat kesehatan dari teh kenikir pun menarik perhatian murid Smamda. Sahda, kelas XI-11, menyatakan, "Kami belajar manfaat kenikir selain sebagai sayuran. Sangat luar biasa untuk mencegah kolesterol sampai dengan penyakit berat seperti kanker," ujarnya.
Kenikir dikenal sebagai tanaman herbal atau "tanaman dewa" yang mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, triterpenoid, dan saponin. Senyawa-senyawa tersebut memiliki potensi sebagai agen antikanker dan berfungsi sebagai detoksifikasi racun dalam tubuh. “Meski demikian, pengolahan kenikir menjadi teh dijadikan sebagai obat pendukung alami dalam mewujudkan hidup sehat yang seimbang,” tambah Sahda.
Inovasi pengolahan kenikir ini tidak hanya membuka cakrawala baru bagi dunia pertanian tradisional, tetapi juga menginspirasi generasi muda untuk mengeksplorasi peluang usaha berbasis produk alam.
Editor : Moh. Ernam